Ketidakstabilan nilai tukar juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dan pelaku usaha. Banyak warga beralih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, emas, atau properti. Peralihan ini semakin mempersempit peredaran rial di dalam negeri dan menambah tekanan di pasar valuta.
Pelemahan rial tidak terlepas dari faktor struktural. Sanksi internasional yang kembali diperketat sejak September 2025 menjadi salah satu pemicu utama. Embargo, pembekuan aset, serta pembatasan sektor energi membatasi ruang gerak ekonomi Iran, khususnya pada sektor minyak yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan negara.
Data menunjukkan, Iran kehilangan sebagian potensi pendapatan ekspor minyak akibat pembatasan tersebut. Meski ekspor masih berlangsung melalui jalur tidak langsung, harga jual yang lebih rendah berdampak pada penerimaan negara. Kondisi ini memperkuat tekanan fiskal dan memperpanjang fase perlambatan ekonomi yang tengah dihadapi Iran. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
