"Kehidupan di dunia kita syukuri, nikmati. Apapun itu, kita bisa jika ditakdirkan seperti ini," ungkapnya.

Ia orang yang awalnya jarang tersenyum. Perih kehidupan telah merampas senyumnya. Senyumnya merekah saat kuliah di IAIN. Ia tak mau rebah dengan apa yang disuguhkan keadaan, karena itu ia tetap optimis. Terus bertarung dengan takdir.

"Saya ngegrab, kerja di warung makan, kerja di hotel, manggung sana-sini, pernah ngamen juga, dan akhirnya dari hasil semua itu saya bisa tenang," bebernya.

Di tahun ini ia mengikuti konteks hijabers dan berhasil meraih juara pertama. Orang tua yang menjadi kekuatannya untuk terus bangkit.

"Dan yang membuat saya kuat itu Ibu, Ayah," sendunya.