Oleh: Abrar
Akademisi dan Sosiolog Olahraga
PENYELENGGARAAN Piala Dunia FIFA 2026 menandai era baru ekspansi struktural kompetisi sepak bola internasional dengan melibatkan 48 tim nasional dalam 104 pertandingan di tiga negara Amerika Utara. Namun, di balik transformasi kuantitatif ini, turnamen ini menjadi arena polarisasi politik yang tajam.
Analisis ini menguraikan bagaimana kebijakan domestik imigrasi Amerika Serikat, restriksi visa, dan eskalasi konflik militer di Timur Tengah menginterfensi integritas olahraga transnasional, sekaligus membantah narasi netralitas politik yang selama ini dipertahankan oleh institusi supranasional seperti FIFA.
Secara historis, badan pengatur olahraga global seperti Fédération Internationale de Football Association (FIFA) secara konsisten mengampanyekan doktrin pemisahan mutlak antara aktivitas olahraga (sporting arena) dan dinamika politik global. Paradigma ini didasarkan pada asumsi bahwa universalitas olahraga dapat berfungsi sebagai ruang netral (neutral ground) yang melampaui sekat-sekat diplomatik.
