Namun, ketika Barat bertindak sebagai tuan rumah di tengah kekacauan birokrasi dan eksklusi massal, kritik tersebut mendadak menguap menjadi sekadar gumaman logistik. Menggunakan premis Stuart Hall (1992) mengenai opsi biner "the West and the Rest" bukan hanya deskriptif tetapi juga preskriptif, yang menentukan siapa yang boleh menjadi tuan rumah, siapa yang boleh memerintah, siapa yang boleh menilai, dan siapa yang harus tunduk pada penilaian.
Fenomena ini menegaskan bahwa Barat masih memonopoli hak eksklusif untuk menilai, memerintah, dan menceritakan kebenaran, sementara negara-negara di luarnya diposisikan sebagai subjek yang harus tunduk pada penilaian tersebut (Faouzi, 2026).
Eksklusi fungsional dan tindakan diskriminatif di pintu perbatasan negara tuan rumah selama turnamen mencerminkan apa yang disebut Frantz Fanon (1963) sebagai "dunia Manichean," di mana mekanisme teritorial berubah menjadi aparatus epistemologis yang memilah tubuh manusia berdasarkan ras dan kewarganegaraan.
Penolakan visa massal, penahanan fotografer Irak, hingga pengusiran rasis terhadap delegasi resmi seperti wasit terbaik Afrika asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, membuktikan bahwa dokumen sah tidak lagi bermakna di hadapan arogansi geopolitik.
Sebagaimana diperingatkan oleh Aimé Césaire (1972) dalam Discourse on Colonialism, patologi terdalam dari peradaban Barat yang dekaden adalah ketidakmampuannya secara kompulsif untuk mengenali kebiadaban dan arogansinya sendiri, bahkan ketika kebiadaban itu tercermin kembali secara nyata di atas landasan pacu bandara internasional mereka.
