An Se Young kemudian bisa mengendalikan permainan. Strategi permainan yang diterapkan tunggal putri peringkat satu BWF dan dunia itu berjalan lancar yang membuat Gregoria kesulitan.

“Seorang juara kayanya mau lawan apapun, kayanya harus dilawan juga ya, mau tipe menyerang, tipe cepat, tipe lambat, atau rally yang kuat sekalipun An Se Young. Harusnya kalau memang seorang juara, harusnya bisa melakukan itu. Cuma tadi yang sangat disayangkan itu aku di game kedua terlalu lama untuk membaca dan cari celah melawan balik,” tutur Gregoria.

Gregoria mengaku sejak tertinggal poin di gim ketiga dirinya sudah tidak memikirkan hasil.

“Apapun yang aku lakukan, aku mau coba saja. Aku sudah enggak mikirin ingin bagaimana. Aku gak mau kalah begitu saja. Sayang banget aku kalau sudah main sampai semifinal Olimpiade, kaya gak mencoba apapun,” ujarnya.

Medali perunggu yang diraih Gregoria merupakan medali pertama bagi kontingen Indonesia dari 29 atlet yang tampil yang berasal dari 12 cabor yang diikuti. (C)