Titik temu keduanya adalah narasi membangun negeri, dengan konsekuensi logis adalah memperoleh jabatan berupa jabatan menteri, wakil menteri, duta besar, komisaris, dan staf kepresidenan.

Baca Juga: Tinggal Kenangan: 'Cawapres Rasa Presiden,' Jika Ganjar-Mahfud Terpilih

Titik temu dengan narasi membangun negeri dan adanya konsekuensi bagi-bagi jabatan yang dianggap lumrah ditenggarai akan menjadi jalan dari perluasan dukungan partai-partai politik lainnya bergabung ke kubu pemerintah. Sehingga oposisi memang tak akan pernah dikenal di Indonesia, yang ada dan dikenal adalah istilah gotong royong, membangun negeri, dan persatuan dan kesatuan.

Gotong royong, membangun negeri, dan persatuan dan kesatuan hal mana ketiganya akan menjadi dasar dari terjadinya upaya memperbesar dan memperluas kekuatan pemerintahan, sehingga dikenalnya nama baru Partai Politik Pendukung Pemerintahan (P4).  

Akhirnya atas nama stabilitas pemerintahan, sikap pragmatis pemerintah dalam mengelola pemerintahan bertemu dengan perilaku politik pragmatis partai-partai politik. Meski begitu, diyakini upaya memperluas dukungan pemerintahan ini membutuhkan waktu sekiranya 1,5 tahun.