“Kita masih terus mengamati dan mencermati situasi politik yang ada. Kita belum tentu dukung Anies, belum tentu dukung Prabowo atau pun Ganjar. Yang jelas Pilkada DKI (2017) dan Pilpres 2019 akan jadi pelajaran dan catatan di Pilpres 2024 ini,” tegas Slamet.

Menanggapi sikap PA 212, Partai Gerindra pun menyatakan menghormati pilihan politik PA 212. Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra, Habiburokhman, menilai sikap PA 212 merupakan hak yang dijamin konstitusi.  

“Secara naluriah kami ingin merangkul semua elemen politik yang ada. Namun, tentu kami nggak bisa memaksa semua pihak mendukung kami,” ujarnya.

Habiburokhman sangat berharap Pemilu 2024 berjalan damai dan tak ingin perbedaan pilihan memunculkan perpecahan.

“Kita semua harus menjaga agar pemilu berjalan damai, rukun dan guyub. Perbedaan pilihan jangan sampai membuat kita terpecah belah sebagai bangsa,” harap dia.