“Ya, beginilah penumpang sabuk dari Tomia, terlihat seperti lautan manusia di atas perairan laut Tomia, mereka ada yang mau ke Baubau dan Kendari, terlihat penumpang asal Tomia sangat padat sekali. Ya inilah buktinya,” tutur Rasyid
Saat dihubungi Telisik.Id, Rasyid menjelaskan hal tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, dimana kapal tol laut tersebut hanya bisa sandar di Wangi-Wangi karena hanya daerah itu yang memiliki pelabuhan yang memadai untuk wilayah Wakatobi. Selebihnya harus transit dari tengah laut dalam.
“Untuk wilayah Wakatobi, kapal tol laut itu hanya di Wangi-Wangi yang memungkinkan kapal untuk sandar,” katanya.
Sementara untuk wilayah lain yaitu, Pulau Kaledupa, Tomia, dan Binongko tidak memungkinkan untuk menyandarkan kapal tol laut karena tidak ada fasilitas dermaga yang bisa melayani kapal tersebut.
“Tiga daerah ini karena tidak ada pelabuhan, jadi kami harus dilepas di perairan dengan jarak sekitar kurang lebih 1 kilometer dari bibir pantai, nanti dijemput kapal-kapal kecil milik masyarakat,” jelasnya.
