Mengutip Umma.id, dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda :
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh seorang mukmin; Jika dia mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan apabila dia ditimpa suatu kesulitan, dia bersikap sabar, maka hal itupun baik baginya.” (HR. Muslim).
Hadis di atas menjadi dalil, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk bersabar, tanpa menyebutkan tentang adanya batas kesabaran. Karena dalam setiap kesulitan terdapat kebaikan, ketika ia dihadapi dengan kesabaran.
Sejatinya, apabila sabar masih memiliki batas, ia tidaklah termasuk dalam kesabaran, dan ia merupakan bentuk dari ketidaksabaran. Dengan alasan apalagi umat muslim mencoba untuk menutupi ketidaksabarannya? Allah dan Rasul-Nya sudah sangat tegas memerintahkan untuk senantiasa bersabar dalam setiap kesulitan.
Jika ditimpa kesulitan atau dizalimi, mintalah pertolongan hanya kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai penolong kemudian bersabarlah, sebagaimana firman Allah ta’ala :
