Contoh peristiwa lain di salah satu belahan Kota Depok, Jabar (berdekatan dengan Jakarta Selatan). Sejumlah laki-laki remaja dan dewasa mengatur lalu lintas (lalin) di lorong sempit. Setiap hari hampir di sepanjang waktu, lorong ini dijadikan alternatif oleh para pemobil dari dua arah, untuk menghindari kemacetan di jalan utama (tentang kemacetan di jalan utama ini, sempat menjadi materi kampanye serius salah seorang calon Wali Kota Depok yang berjanji mampu mengatas kemacetan). Bahkan, mobil-mobil yang melintas dari dua arah lewat di lorong itu, tak jarang yang berukuran pas-pasan dengan lorong itu.  

Di lorong sempit itu, terdapat tikungan tajam. Kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah “Pak Ogah” untuk “menjual jasa” dengan cara mengatur mobil yang datang dari dua arah. Tak jarang para pemobil sambil menunjukkan kekesalan –karena kemacetan malah sering menjadi-jad-- melempar uang recehan, Rp 500 sampai Rp 2.000, kepada para “Pak Ogah”.

Para “Pak Ogah” itu sering dikeluhkan para pemobil, karena jumlahnya sampai enam orang menyebar di kedua mulut lorong arah berlawanan dan di tikungan. Paling tidak ada ada dua orang di tiga lokasi. Di setiap lokasi mereka terpaksa melempar uang receh. Padahal, tak jauh dari situ ada jalan alternatif lain yang lebih besar, yang  sebenarnya bisa dimanfaatkan agar lorong sempit ini  bisa dibuat searah bagi mobil kecil saja.

Fenomena serupa terjadi pula dengan yang menyebut dirinya “ankamsi”. Di suatu perumahan, misalnya, mereka meminta uang kepada tukang atau pemilik rumah yang terlihat mengangkut bahan-bahan bangunan untuk merenovasi. Tak jarang pula, hal serupa dialami oleh pekerja yang datang menggunakan mobil operasional untuk memperbaiki jaringan listrik.

“Saya alergi dan malu dengan perbuatan mereka yang mengaku “ankamsi” itu. Bikin malu kampung sendiri. Pemalas! Apalagi, cari untung di kesempitan lorong kecil itu,” kata seorang pengemudi gojek (sepeda motor yang ditaksikan) yang kerap ditumpangi penulis menuju Stasiun KRL Citayam, Depok, suatu ketika.