Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, adalah simbol kekuatan dan loyalitas kader terhadap PDIP. Ditambah lagi dengan realitas kultur dan mekanisme internal di PDIP, mengenai calon Presiden dan Wakil Presiden diserahkan kepada Megawati selaku ketua umum berdasarkan Kongres V di Bali pada 2019 lalu.
Asumsi yang dapat ditafsirkan antara PDIP dengan Gerindra adalah pilihan terhadap Puan Maharani dibandingkan Ganjar Pranowo sekalipun, hanya akan membuat kader PDIP sekadar ‘gondok’ di hati, ‘gerutu’ di lisan semata antar kader, tetapi dalam bekerja tetap bersemangat memenangkan Puan Maharani.
Contoh ini bisa dilihat dari keputusan Megawati Soekarnoputri yang memilih Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada 2017 lalu, meski cenderung menolak tetapi kader-kader PDIP tetap semangat memenangkan Ahok walaupun dengan dilema di hati sekalipun.
Situasi ini tentu saja akan berbeda di internal Gerindra. Hanya saja, Sandiaga Uno adalah sosok yang menghargai Prabowo. Meski ada hasrat ingin kembali dalam pertarungan di Pilpres mendatang, tetapi syahwat ini cenderung akan ditekan seminimalisir oleh Sandiaga Uno. Sehingga, gejolak di internal Partai Gerindra tidak terjadi bahkan meluas.
Memperhitungkan Koalisi
