Riwayat Palangga dan Laatu

Secara etimologi, Palangga terdiri dari dua suku kata yaitu Pa yang berarti objek penderita apakah seseorang atau benda dan Langga yang berarti alas bangunan berlapis. Contoh dapat dilihat pada bentuk rumah panggung yang menggunakan alas tiang yang disebut polangga.

Sedangkan Laatu diyakini sebagai nama seseorang, sehingga secara umum dapat diartikan bahwa Palangga merupakan tumpukan batu membentuk benteng yang dibangun oleh seseorang yang bernama Laatu.

Laatu diyakini adalah bungsu dari 9 orang bersaudara yang umum dikenal oleh masyarakat Kabaena dengan sebutan Doo Nsio Langi atau manusia raksasa (Kalamboro). Nama-nama tersebut tidak spesifik disebut dalam sastra lisan (KADA), melainkan hanya disebut dengan gelar Tongi Mpuu Wonua oleh Dr. Johanes Elbert dalam bukunya, The Sunda Expedition sub Die Insel Kabaena Tahun 1905.

Rangka manusia raksasa itu pernah dilihat langsung oleh beberapa orang yang sebagian besar sudah almarhum namun masih ada yang menjadi saksi hidup diantaranya adalah Bapak Suratman, pensiunan TNI, Mahmud Sarif, Kepala Dusun Tirongkotua Desa Tirongkotua Kecamatan Kabaena dan puluhan lainnya yang tidak dapat disebut satu per satu. Rangka tersebut saat dilihat masih dalam keadaan utuh dengan perkiraan tinggi saat duduk mencapai 3 meter.