Sayangnya saat penelusuran, rangka manusia dimaksud belum kami temukan selain hanya bau bangkai menyengat yang dirasakan. Alkisah, rangka itu bersifat ada dan tiada (ada bagi orang yang pernah melihatnya, tiada bagi yang tidak mempercayai). Istilahnya dalam bahasa Kotu’adisebut Winio yang berarti menghilang dan tidak akan ditemukan saat bersengaja mencarinya.

Dalam hikayat disebutkan bahwa rangka itu adalah salah seorang yang terlibat dalam pembangunan banteng Palangga. Dikisahkan, Palangga dibangun menggunakan pasukan jin dari seluruh dunia berdasarkan kemampuan tinggi yang dimiliki oleh Laatu. Salah satu bukti bahwa Palangga dibangun oleh pasukan jin adalah adanya benda serupa botol yang masih dapat dilihat langsung.

Benda tersebut terletak di bagian kiri dinding pintu masuk benteng. Benda itu hanya mampu digoyangkan sebab badan botol terdapat di dalam batu dan lehernya-lah yang nampak dan menjadi tempat berpegang saat naik di benteng itu. Bersebab dari pembangunan benteng itu pulalah sehingga Pulau Kabaena juga dikenal sebagai salah satu Kota Jin terbesar di dunia.

Tidak disebut berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bangunan tersebut melainkan terkisah bahwa pada awal abad ke 8, Laatu setelah menghadiri undangan pesta besar-besaran yang diselenggarakan selama delapan hari delapan malam oleh Raja Laki La Dende, pesta tersebut berlangsung sangat meriah yang diselanya diperbincangkan dan disepakati tentang tapal batas Kerajaan Mekongga dan Kerajaan Moronene.

Sepulang dari undangan tersebut, sebelum menyeberang pulau, Laatu bersama Palangga membuat patok sebagai tapal batas antara kerajaan. Patok tersebut berupa bambu berduri yang sampai saat ini masih dijumpai di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa-Watu Meohai. Wallaahu a’lam. (*)