Perempuan itu bernama Lisna (40), seorang pemulung yang tinggal di Kelurahan Rahandouna, Kendari. Ia hanya tinggal bersama anak laki-lakinya di sebuah rumah sederhanaJauh dari keluarga besar, kehidupannya bergantung sepenuhnya pada hasil memulung.

“Satu hari kadang saya bisa kumpulkan satu sampai dua kilogram sampah plastik sama kardus. Tapi pernah juga saya pulang tanpa dapat apa-apa,” ujar Lisna kepada telisik.id, Rabu (11/9/2025).

Setiap dua minggu sekali, ia menimbang hasil memulungnya di pengepul. Dari situ, Lisna bisa memperoleh sekitar Rp 500 ribu, jumlah yang dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski penghasilan itu tidak selalu stabil, ia tetap berusaha mencukupkan sebisanya.

Rutinitasnya berjalan sama hampir setiap hari. Pagi hingga siang ia berkeliling kota, kemudian beristirahat sebentar di rumah. Menjelang sore, kembali ia turun ke jalan hingga matahari terbenam.

“Saya nggak punya pilihan lain. Saya sudah tua, nggak ada lagi pekerjaan lain yang bisa saya lakukan,” ungkapnya.