Begitu pula dengan isu kampanye, pilihan visi-misi, bahkan menguatnya figur kandidat dibandingkan dengan visi-misi, bebannya juga ada pada partai-partai politik. Sebab, partai politik yang memainkan politik pencitraan, melakukan politik demagogi, menghadirkan isu kampanye negatif maupun black campaign, juga lebih menonjolkan figur kandidat dibandingkan mensosialisasikan visi-misi yang akan menjadi program kerja pasangan calon jika terpilih.

Baca Juga: Pasar Gelap Demokrasi

Bahkan, jika di tingkat masyarakat terjadi polarisasi, ketidakdekatan dengan partai politik, itu semua disumbang oleh perilaku pragmatis partai-partai politik.  

Partai-partai politik lebih senang memainkan lakon yang tidak jelas, tidak menampakkan keseriusan dalam bersikap sebagai oposisi atau pendukung pemerintah, suara mereka hanya untuk kepentingan partai politiknya semata.

Di sisi lain, pragmatisme partai politik, juga akan membahayakan jika pemilihan presiden dilakukan oleh MPR. Sebab jika dianggap bahwa Pilpres memboroskan anggaran karena mekanisme pelaksanaannya. Pemilihan MPR juga malah yang bisa terjadi politik uang akan lebih masif terjadi di Gedung Senayan.