Keriuhan di masyarakat dari banyaknya suara yang bergulir dari politisi, tentu saja baik bagi iklim demokrasi. Jika suara-suara politisi menunjukkan kepada kepedulian terhadap rakyat.

Sayangnya, masih minimnya politisi-politisi bersuara yang menunjukkan kepedulian dengan masyarakat. Malah yang diperdengarkan adalah suara yang cenderung mengeliminasi rakyat, kepentingan rakyat disingkirkan untuk lebih memilih meningkatkan kepentingan diri dan kelompoknya.

Di tengah pandemi ini, semestinya sebagai anggota DPR lebih banyak suaranya terdengar di gedung Senayan. Bukan malah teriak kencang, serasa ia menggantikan suara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan bersuara di luar parlemen.

Seperti yang disuarakan oleh Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas). Ia benar menyuarakan, akan kekhawatiran bahwa Indonesia akan menjadi negara gagal (failed nation) dalam menangani pandemi COVID-19.  

Tetapi sayangnya, suara Ibas kencang di luar parlemen, tetapi kehadirannya di parlemen sangat minim. Beberapa kolega Ibas di komisi VI, malah mengajak Ibas untuk hadir di rapat-rapat Komisi VI.