Wajar akhirnya, jika suara Ibas yang cenderung di luar Senayan, malah dikucilkan oleh kawan-kawannya sesama legislator. Sebab, ia dianggap bahasa anak sekarang “kudet” atau kurang update. Ia tak bisa mendapatkan objektivitas dari langkah-langkah apa yang telah dilakukan dan akan dilakukan oleh pemerintah.

Ia hanya menunjukkan ambisius pribadi, kepentingan kelompoknya semata, tetapi malah mengecewakan suara-suara masyarakat yang telah memilihnya untuk menduduki jabatan politisi di Senayan.

Masyarakat pun dapat bertanya, jangan-jangan Ibas malah hanya pandai mengkritik tanpa bisa memberikan solusi, makanya suaranya hanya kencang di luar Senayan. Jika seperti itu, untuk apa menjadi politisi yang berjuang sebagai legislator, mending menjadi politisi administrasi di tingkat Pusat partai saja.

Sebenarnya, suara-suara sumbang ini adalah konsekuensi dari sistem kepartaian yang bersifat multipartai. Sehingga, partai-partai hanya berpikir merebut simpatik dan berupaya mencari popularitas semata, ini semua hanya untuk kepentingan diri dan partainya saja. Sehingga melupakan kerja nyata bagi masyarakat.

Semestinya di tengah pandemi ini, banyak kerja-kerja partai yang bisa ditunjukkan untuk meraih simpatik masyarakat tanpa perlu harus selalu bersuara, misal, memberikan dukungan bantuan sosial atas nama partai terhadap masyarakat di daerah pemilihannya yang sedang isolasi mandiri, memberikan program penyemprotan disinfektan bagi masyarakat, maupun mengadakan program-program vaksin bagi masyarakat yang dilakukan atas nama partai.