Oleh: Muh. Ikhsan AR

Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Sulawesi Tenggara dan Pengamat Sosial

'PESTA BABI' bukan sekadar film. Ia adalah jeritan sunyi tentang bumi yang perlahan kehilangan kesakralannya. Di balik narasi sosial dan ketegangan yang ditampilkan, tersembunyi pergulatan panjang antara manusia, tanah, kekuasaan, dan modernitas. Film ini dapat dibaca sebagai refleksi mendalam atas luka ekologis dan krisis spiritual yang melanda Papua.

Papua bukan hanya wilayah geografis. Ia adalah ruang kosmik tempat manusia, hutan, sungai, leluhur, dan langit hidup dalam jalinan spiritual yang menyatu. Dalam banyak tradisi masyarakat adat Papua, tanah tidak dipahami sebagai objek ekonomi semata. Tanah adalah ibu. Hutan adalah tubuh kehidupan. Sungai adalah aliran ingatan leluhur. Maka ketika tanah dirampas, yang hilang bukan sekadar hektar demi hektar ruang hidup, tetapi juga identitas, sejarah, dan kesadaran spiritual suatu komunitas.

Modernitas kapitalistik sering memandang alam hanya sebagai komoditas. Gunung dinilai dari kandungan mineralnya. Hutan dihitung berdasarkan nilai investasinya. Sungai diukur dari potensi industrinya. Cara pandang seperti ini melahirkan apa yang oleh para pemikir ekologi disebut sebagai “krisis ontologis”: manusia kehilangan kemampuan memandang alam sebagai sesama entitas kehidupan.