Di sinilah 'pesta babi' menemukan relevansinya. Ia memperlihatkan benturan antara spiritualitas ekologis masyarakat adat dengan logika kapitalisme ekstraktif. Tanah ulayat berhadapan dengan industri. Tradisi berhadapan dengan pasar. Kearifan lokal berhadapan dengan modernitas yang sering datang tanpa empati.
Kita hidup di zaman ketika pembangunan sering dipahami sebagai perluasan jalan, tambang, dan investasi. Namun jarang ditanyakan: pembangunan untuk siapa? Kemajuan menurut ukuran siapa? Sebab sejarah dunia menunjukkan bahwa kemajuan material tanpa kebijaksanaan ekologis justru melahirkan kehancuran peradaban.
Baca Juga: Merosot Adab Pelajar ke Guru, Alarm Keras Sistem Pendidikan
Pemikir Norwegia Arne Naess melalui gagasan deep scology mengingatkan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar nilai guna bagi manusia. Pandangan ini sesungguhnya sangat dekat dengan kosmologi masyarakat adat Papua yang memandang alam sebagai bagian dari jaringan kehidupan suci.
Ironisnya, masyarakat adat sering dicap “terbelakang” justru karena mereka menolak eksploitasi yang merusak keseimbangan alam. Padahal mungkin merekalah penjaga terakhir kebijaksanaan ekologis yang kini hilang dari dunia modern.
