Penelitian IDAI di Jakarta menemukan 75,8% anak sekolah dasar mengalami defisiensi vitamin D. Risiko terus meningkat seiring bertambahnya usia. Data menunjukkan bahwa 63% wanita dewasa (usia 18-40 tahun) mengalami defisiensi. Angka ini melonjak pada kelompok lansia, di mana 78,2% di antaranya kekurangan vitamin D.

Untuk memahami paradoks defisiensi vitamin D di Indonesia, penting untuk menganalisis berbagai faktor penyebab yang saling terkait. Asumsi bahwa iklim tropis secara otomatis menjamin kecukupan vitamin D terbukti keliru.

Nyatanya terdapat tiga faktor utama yang menjadi pendorong krisis defisiensi vitamin D di Indonesia:

Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan. Perubahan gaya hidup modern secara signifikan mengurangi paparan sinar matahari yang esensial.

Sebagaimana dicatat oleh peneliti UGM, Ronny Martien, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu pagi dan siang hari di dalam ruangan untuk bersekolah, yakni pada jam-jam ideal (sekitar pukul 09.00-10.00) untuk sintesis vitamin D.