"Terkadang, saya bisa mendapatkan Rp300.000, tetapi ada juga saatnya hanya Rp200.000. Semua tergantung pada jumlah pesanan yang masuk," tuturnya.

Di balik keterampilan dan kesabaran itu, tantangan besar tetap ia hadapi. Permintaan yang fluktuatif membuat pemasukan jauh dari stabil, apalagi di tengah persaingan dengan produk pabrikan modern. Namun, Kasdi tetap memilih bertahan.

"Selama masih ada yang membutuhkan, saya akan terus membuat parang. Ini sudah jadi bagian dari hidup saya," katanya mantap.

Penulis: Brio Toto Aryanto

Editor: Ahmad Jaelani