Selama ini, lanjutnya bulog sebagai penyedia beras nasional mendapatkan pengadaan stock melalui pihak ke tiga melalui tengkulak dan penguasa lahan. Tentu seluruh produksi beras yang dihasilkan tidak semuanya akan diserahkan ke bulog, akan ada permainan harga yang dilakukan oleh para tengkulak setelah lewatnya masa panen pada Februari-April dan Juli-Agustus, sehingga kesediaannya ada tapi tentu dengan harga yang berbeda.
"Kita berharap Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian bisa bekerja sama dalam memutus tata niaga hasil panen ke tengkulak, sehingga serapan hasil gabah petani bisa langsung dibeli dan diolah langsung oleh perum bulog selaku penyedia beras nasional, kita rasa kita mampu mengolahnya, masa kita kalah dengan para tengkulak," kata Hafiz.
Hal ini diharapkan bisa membantu kementerian terkait dalam penggunan data yang valid.
"Kita tidak ingin adanya kesalahan dalam pengambilan keputusan, sehingga kalaupun harus melaukan impor tentu berdasarkan kekurangan yang ada, sehingga petani tidak lagi merasa di rugikan karna impor yang berlebihan," tambahnya. (B)
Penulis: Try Wahyudi Ari Setyawan
