Menurut Ati, salah satu penyebab utama sepinya pasar adalah pergeseran perilaku belanja masyarakat. Banyak pembeli kini lebih memilih bertransaksi secara online daripada datang langsung ke pasar tradisional.
“Orang-orang sekarang lebih banyak belanja online ketimbang ke pasar,” ujarnya.
Selain tren belanja digital, hari pasar yang jatuh pada Rabu juga turut memengaruhi sepinya pengunjung. Namun, kondisi ini dinilai tidak wajar karena biasanya menjelang lebaran, hari pasar tetap ramai.
“Memang kalau Rabu kondisi pasar sepi di hari biasanya, tapi ini menjelang lebaran pasar di hari Rabu masih sepi juga,” imbuh Ati.
Ali, pedagang lainnya, juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia menyoroti perubahan tata letak pasar yang kini dibagi menjadi beberapa titik di Kecamatan Sampolawa sebagai salah satu faktor tambahan.
