Chendy mengungkapkan, ide di balik kegiatan ini muncul dari keresahan pribadinya terhadap nilai-nilai budaya lokal, khususnya sarap bangunan, yang mulai dilupakan oleh generasi muda.

Oleh karena itu, ia mengemas nilai-nilai budaya tersebut dalam bentuk pertunjukan teater.

Rangkaian acara dimulai dengan workshop, dilanjutkan dengan pawai, penampilan tari dari Sanggar Seni Setiawan, dan diakhiri dengan pertunjukan monolog.

Acara ini melibatkan 100 peserta yang mengikuti pawai di sekitar Benteng Sorawolio dan ditutup dengan acara kande-kandea atau makan bersama.

Baca Juga: Tiga Budaya Suku Muna Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia