Pertaruhan PDIP Mengajak Nasdem Berkoalisi
PDIP berkoalisi dengan Nasdem peluangnya kecil. Nasdem tidak punya calon dari internalnya sendiri. Suara internal Nasdem telah menguat kepada Anies Baswedan sebagai pilihan pertama, berikutnya Ganjar Pranowo dan terakhir Andika Perkasa. Bisa diterka, PDIP tidak mungkin mengajak NasDem semata.
Peliknya mengajak Anies Baswedan, ia menginginkan jabatan calon presiden. Anies juga tak punya ikatan yang kuat dengan NasDem, berbeda Anies dengan PKS. Anies saja pernah menolak diusung sebagai cawapres mendamping Prabowo yang saat “rematch” dengan Jokowi pada Pilpres 2024 kemarin. Padahal, Prabowo masih dianggap lawan seimbang. Apalagi ini, hanya mendampingi Puan Maharani yang elektabilitas sebagai capres di zona degradasi, sedangkan elektabilitas Anies dalam kategori tiga besar.
Jika mengusung Ganjar, akan menimbulkan kekecewaan dihati sang “putri mahkota.” Puan adalah anak ideologis dan biologis dari pemegang hak tunggal PDIP, dapat digagalkan pencalonannya oleh arahan partai Nasdem peraih peringkat kelima. “Tamparan” juga dapat diberikan oleh Nasdem bagi peraih suara terbanyak ini.
PDIP adalah peraih suara terbanyak, jika mengusung Ganjar, posisi tawar PDIP yang tinggi malah “dilecehkan,” Nasdem. PDIP sebagai peraih suara terbanyak, dalam koalisi dan pasangan koalisinya di dikte oleh Nasdem sebagai peraih peringkat kelima. Nasdem makin di atas angin, membuktikan bahwa PDIP sebagai partai “sombong” mulai sadar diri, dan/atau Nasdem posisi tawarnya makin tinggi.
