Pilihan alternatifnya adalah Andika Perkasa. Wajah banteng moncong putih dipertaruhkan, PDIP sesumbar bahwa punya empat nama calon presiden tetapi ternyata yang diusung malah dari eksternal PDIP, yang suaranya berasal dari internal Partai Nasdem. Kemungkinan besar juga akan berdampak gerutu di hati konstituen anggota PDIP, meski sifatnya pasif atau tidak terbuka, sebagai konstituen yang patuh “petugas partai,” mengikuti semua keputusan Megawati Soekarnoputri sebagai pemegang hak tunggal, adalah harga mati.
Jika koalisi ini terbentuk. Nasdem akan “gede rasa,” bisa membusungkan dada. Nasdem telah berhasil mendikte, mengarahkan, lebih menohoknya mengatur “partai sombong,” seperti perdebatan komunikasi antar PDIP dan Nasdem yang sempat terjadi.
Melihat kemungkinan koalisi cenderung banyak ruginya, konstituen PDIP dalam logika sederhananya, mending sebaiknya mengusung paket calon sendiri seperti Puan Maharani-Ganjar Pranowo. Walau awalnya, ramai-ramai menolak Ganjar di elit PDIP, tetapi Ganjar tetap sama dengan mereka “petugas partai.”
Puan dan Kutak-Katik Peta Koalisi
Puan Maharani terkesan hanya diberikan tugas merayu Nasdem bergabung dalam koalisi PDIP. Padahal, jika diterka tugas Puan Maharani ada dua yang saling berkait yaitu: merayu Nasdem sekaligus mengajak mewujudkan pasangan capres-cawapres yakni Puan Maharani-Anies Baswedan.
