Baca Juga: Perjuangan (Bosan) Prabowo Subianto
Apa yang dapat disimpulkan dari turunnya PDIP ke “lantai dansa”? Pertama, PDIP besar kemungkinannya mendorong Puan Maharani sebagai capres. Kedua, PDIP sedang berusaha menduetkan Puan Maharani-Anies Baswedan, tetapi tidak menginginkan PKS dan Partai Demokrat dalam koalisi. Ketiga, PDIP berupaya poros koalisi Nasdem-PKS-PD tidak terjadi. Jika poros koalisi ini gagal, maka Anies-AHY peluangnya semakin mengecil diusung bersama oleh dua poros yang ada lainnya.
Ini adalah tugas berat, meski sekaligus peluang. Puan Maharani harus meyakinkan Nasdem untuk membentuk poros koalisi dengan PDIP, juga mau mengusung Puan dalam nama pasangan calon dari koalisi itu. Nasdem tentu berpikir cermat, sebab Nasdem telah meminta nama yang layak diusung dengan PDIP adalah Ganjar Pranowo, sebelum menguatnya nama Anies Baswedan.
Ini bukan pekerjaan mudah bagi PDIP. PDIP telat respons segera turun ke “lantai dansa.” Saat ini, PDIP dianggap menempuh langkah panik dan dilema. Dilemanya, PDIP sebagai partai peraih suara terbanyak akan dapat “dilecehkan” oleh NasDem dengan didektenya, atau memilih berkompetisi melawan poros koalisi Nasdem-PKS-Demokrat, yang saat ini kemungkinannya akan segera terwujud.
Kalkulasi PDIP adalah antara melawan poros Nasdem-PKS-Demokrat, atau mengagalkan poros itu dan menjadikan Nasdem mitra koalisi. Jika boleh memilih lawan tanding, keinginan PDIP, lawannya adalah kembali berhadapan dengan Prabowo, maupun alternatif paket dari KIB sebagai poros ketiganya. Prabowo bisa saja ketiga kalinya dapat dikalahkan. Sedangkan paket alternatif dari KIB, kecil peluangnya mempasangkan Anies-AHY.
