Padahal yang harus dikedepankan orang-orang kuat yang lebih memilih menjadi tipe orang yang selalu berusaha mengakurkan ide, gagasan bahkan perilaku yang tampak kontradiktif dari beberapa orang. Tujuan supaya mereka yang terlibat bisa lebih nyaman karena tidak merasa dibenturkan.

Posisi itu yang dibutuhkan kedepan mencari elite yang mau mengambil peran sebagai juru damai dan  mereka itulah 'peace maker' seperti seorang Nelson Mandela. Nelson Mandela sebagai sosok pemimpin sejati yang tidak haus kekuasaan dan tidak takut menjadi warga biasa setelah menjadi presiden, di salah satu kesempatan beliau berkata “jangan nilai saya menurut keberhasilan saya, nilailah saya berdasarkan berapa kali saya jatuh dan bangkit lagi.” Ia selalu dikenang sebagai revolusioner perdamaian bagi bangsa Afrika maupun bagi dunia.  

Memasuki tahun 2023 sebagai tahun politik dan konstalasi akan memanas, maka sangat dibutuhkan elite-elite politik yang tidak bertarung kekuatan untuk menunjukkan dirinya sebagai  king maker dengan alasan bahwa dirinya punya pengaruh ataukah partainya cukup kuat karena memiliki 20 kursi atau 25 suara nasional sehigga mereka memiliki legal formal dalam penentuan capres di Pilpres 2024.

Saya yakin tulisan ini lahir bukan karena akhir-akhir ini saya lebih banyak nonton kartun dan membaca komik. Tetapi satu harapan besar bangsa ini, yang saat ini sangat  membutuhkan sosok panutan yang berdiri sebagai bapak bangsa. Itulah peace maker, karakter elite politik yang dirindukan, bukan sosok yang berdiri atas nama partai, kelompok maupun golongan masing-masing. (*)