"Kami tidak setuju dengan harga (Rp) 900 ribu itu. Menurut kami itu sangat mahal, berbanding terbalik dengan omset yang kami dapatkan sebagai pedagang kecil," tegas Makalayo, salah satu perwakilan pedagang.
Emosi para pedagang memuncak ketika pihak Perumda dalam kesempatan tersebut menyebut bahwa tarif Rp 900 ribu terbilang terjangkau.
Pernyataan itu membuat para pedagang dan pihak Perumda Utama Sultra bersitegang. Pedagang menganggap sebagai alasan yang tidak membumi dan sama sekali tidak memahami realitas penghasilan para pedagang yang mengandalkan omzet harian yang belum tentu stabil.
"Kenapa 900 ribu itu bisa dibilang terjangkau? Bagi mereka yang pegang uang banyak mungkin murah, tapi bagi kami yang cari makan sehari-hari, Rp 900 ribu itu angka yang sangat besar. Belum lagi biaya operasional lain, bagaimana mau jalan usaha kami?" tegas Gopal, salah satu pedagang.
Pernyataan pihak Perumda Utama Sultra tersebut juga mendapat respons dari kelompok masyarakat sipil, yakni Aliansi Lingkar MTQ.
