Baca Juga: Tina Nur Alam Minta Doa Restu dan Bantu Infrastruktur di Sekolah Ini
Ia juga harus berjalan kaki sambil memikul dagangannya, berkeliling ke pasar-pasar supaya dagangannya tetap laku. Ia mulai jualan dari pukul 6 sampai 9 pagi, dilnjutkan sore hari pada pukul 16.00 hingga pukul 18.00.
“Selama naik BBM, sangat mengurangi keuntungan karena harga bahan-bahan semakin naik. Saya yang dulu jual Rp 5 ribu bisa dapat 10 biji, sekarang kalau Rp 5 ribu hanya 8 biji, berkurang 2,” ucapnya.
Senada dengan Mas Ipul yang juga penjual buroncong. Pedagang yang sering mangkal di depan kampus UHO ini mengatakan, keuntungannya dalam menjual sangat sedikit dikarenakan harga bensin naik. Sementara ia harus berangkat jualan menggunakan sepeda motor, belum lagi harga bahan-bahan yang ikut naik seperti terigu, dan lain lain.
Baca Juga: Dapat Bantuan Kadin, RSUD Kota Kendari Punya Pasokan Oksigen Sendiri
