"Jangan sampai perguruan tinggi hanya menjadi penonton perubahan. Lebih buruk lagi kalau menjadi penghambat perubahan," ujar Jasruddin.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus berperan sebagai penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi melalui pendidikan, penelitian, serta inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Perguruan tinggi harus menjadi pendekar perubahan, dari hulu hingga hilir. Dari perubahan pola pikir, kurikulum, tata kelola, riset, hingga hilirisasi inovasi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri," katanya.
Lebih lanjut, Jasruddin menilai ukuran keberhasilan perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah mahasiswa atau banyaknya program studi yang dimiliki. Yang menjadi perhatian utama adalah kualitas lulusan serta kemampuan mereka memasuki dunia kerja dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Baca Juga: Daftar Harta Kekayaan 10 Bakal Calon Rektor UHO Kendari 2026-2030, Tertinggi Rp 14 Miliar
