Oleh: Abrar

Sosiolog Olahraga dan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara

SEBUAH peluit dari Timur Tengah menggema di stadion, dan bersamanya pupuslah mimpi Indonesia menuju Piala Dunia FIFA 2026. Pertandingan krusial di babak kualifikasi itu seolah memperlihatkan segalanya—perjuangan, ambisi, dan ketegangan yang membungkus lapangan hijau ketika Timnas Indonesia datang membawa asa untuk menembus sejarah.

Namun, di tengah panasnya laga, keputusan-keputusan kontroversial dari sang pengadil asal sub-regional yang sama dengan tim lawan mulai mengikis mental bertanding, hingga akhirnya peluit panjang berbunyi sebagai penanda duka yang menyesakkan bagi 286 juta rakyat Indonesia.

Fenomena ini memantik lahirnya diskursus kolektif di ruang publik mengenai istilah “peluit Timur Tengah”, sebuah metafora yang secara sosiologis mencerminkan adanya keretakan kepercayaan (distrust) publik yang mendalam terhadap sistem penugasan perangkat pertandingan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).