Patut dipahami bahwa gerakan moral itu umumnya dilakukan oleh masyarakat. Didasari oleh masyarakat dalam mengkritisi kinerja pemerintahan, kebijakan dan keputusan pemerintah, yang dinilai buruk. Sehingga dampak positif dari kebijakan tidak dirasakan oleh masyarakat, yang ada malah rakyat dibikin sengsara karena kebijakan tersebut.  

Dorongan dari gerakan moral oleh masyarakat inilah yang ditenggarai membuat para menteri-menteri di Kabinet merasa kinerjanya tidak lagi optimal. Para menteri terbebani pikiran dan hatinya karena kritik dari masyarakat tersebut, sehingga membuat mereka memilih mundur dari kabinet.

Ini menunjukkan dua proses terjadi, pertama, gerakan moral dari masyarakat, dan kedua, kesadaran diri dari para menteri itu sendiri. Ini menunjukkan dalam menyikapi poin pernyataan terakhir, jika pilihan mundur dari kabinet tidak didasari oleh kesadaran dirinya sendiri. Pilihan mundur ini ditenggarai adanya tindakan pemaksaan.  

Jika itu yang terjadi, maka gerakan maupun wacana yang menghangat di publik tersebut adalah sebuah gerakan provokasi kepada pemerintahan. Seolah-olah gerakan itu mengatasnamakan rakyat.

Padahal kemungkinan besarnya ditenggarai untuk kepentingan dirinya sendiri, kelompok, orang lain, atau karena dia yang menganjurkan gerakan ini adalah pendukung fanatik terhadap salah satu pasangan calon presiden (capres) dan cawapres.