Tidak berhenti di situ, memanfaatkan situasi pandemi COVID-19, proses pelatihan Amdal dan Konsultasi Publik dinilai dilakukan dengan tidak transparan dan tidak optimal.

Dengan alasan protokol kesehatan, proses pemaparan dari akademisi Universitas Cendrawasih hanya dilakukan dengan metode Webinar. Masyarakat yang diundang dan hadir pun marah, mereka melakukan protes.

“Kami kumpul di sana, tapi di depan meja hanya ada layar. Kami harus berbicara dengan siapa? Pelatihan ini diduga hanya formalitas dan tak dipersiapkan sungguh-sungguh, apalagi yang dilibatkan pun hanya elit-elit kampung, bukan masyarakat terdampak langsung," ungkap Adolfina.

Adolfina mengatakan, terkait aktivitas baru yang akan dilakukan FI dalam pengembangan operasinya, mereka tertutup dan terkesan tidak transparan.

Dalam kegiatan pelatihan Amdal yang dilaksanakan pada 28 Juli lalu, FI menyebutkan, ada 17 aktivitas atau kegiatan yang akan masuk dalam pembaruan Amdal ini.