Menurut Hawatir, kepindahan tersebut dilakukan karena biaya pembayaran sampah dan lampu di Pasar Korem dinilai cukup tinggi. Setelah berpindah lokasi, ia justru menghadapi kondisi pasar yang masih sepi pembeli.

Setiap hari, Hawatir mulai berjualan sekitar pukul 09.30 Wita dan mengakhiri aktivitasnya sekitar pukul 18.00 Wita. Dari waktu berjualan tersebut, pendapatannya tidak selalu sama dan terkadang hanya mencapai sekitar Rp 300.000 sehari.

“Saya berharap kalau bisa Pasar Sentral Wua-wua dibuat ramai, supaya kami pedagang juga bisa mendapatkan pembeli dan penghasilan yang lebih baik,” ucapnya kepada telisik.id, Senin (28/9/2026).

Bagi para pedagang, jumlah pengunjung menjadi salah satu faktor yang menentukan banyaknya barang terjual dalam sehari. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang harus menyesuaikan jumlah dagangan dengan kemampuan penjualan.

Sepinya pembeli juga menjadi tantangan bagi pedagang yang menggantungkan pendapatan sehari-hari dari aktivitas perdagangan di Pasar Sentral Wua-Wua.