Lanjut Sekda, website bukan saja harus responsif dan cepat, tetapi harus memiliki literasi maupun cerita yang informatif, kaya, dan kuat. Dalam beberapa kasus di lapangan sebutya, banyak destinasi maupun objek wisata yang telah mengembangkan website.
Masalahnya ungkap Sekda, hal-hal kecil seperti informasi dan konten masih sering diabaikan. Padahal, website kerap menjadi rujukan utama wisatawan sebelum mengambil keputusan.
“Isi informasi sangatlah penting, wisata yang dipromosikan, keterampilan SDM pariwisata harus terus ditingkatkan, utamanya yang menyentuh ranah digital,” tutupnya. (B-Adv)
Penulis: Sigit Purnomo
Editor: Kardin
