Lalu, melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, instansi vertikal di wilayahnya dan pihak-pihak terkait lainnya dalam penanggulangan bencana gerakan tanah/tanah longsor dan banjir serta melibatkan partisipasi dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi dan media massa.

Senantiasa menyiapkan SDM (Satgas), logistik dan peralatan kebencanaan. Mengecek kembali daerah-daerah rawan dan ancaman bencana serta jalan jalan berpotensi longsor. Standby alat komunikasi (handphone) selalu update info PVMBG dan BMKG terutama tentang cuaca/iklim.

"Sosialisasikan kepada masyarakat dan dunia usaha di wilayah masing-masing serta replanting agar tidak membakar hutan/lahan untuk mengelola lahan. Memonitor pantauan titik panas (hofspot) dari informasi BMKG atau KLHK," tuturnya.

Kemudian, Aris menyebut harus selalu siap siagakan peralatan dan personel pemadam di zona hutan/lahan yang rawan terbakar. Mengingatkan kepada masyarakat untuk memperkuat struktur bangunan rumah yang mudah rusak apabila di terpa angin kencang.

Serta mengikuti protokoler kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam melaksanakan peringatan dini selama pandemi COVID-19 di Sumatera Utara.