"Potensi pemburuan rente inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi Tim Anti Mafia Migas untuk merekomendasikan penghapusan BBM premium lima tahun lalu," ujarnya.
Menurut dia, penghapusan BBM premium pada masa pandemi COVID-19 akan semakin memperberat beban masyarakat karena konsumen harus migrasi ke pertamax, yang harganya lebih mahal. Apalagi, masyarakat pengguna BBM premium merupakan konsumen terbesar kedua setelah konsumen pertalite.
"Untuk meringankan beban masyarakat, penghapusan BBM di bawah RON-91 harus disertai dengan penurunan harga pertamax RON-92," kata dia.
Bagi Pertamina, kata Fahmy, sesungguhnya masih ada ruang untuk menurunkan harga BBM pertamax. Pasalnya, tren harga harga minyak dunia masih cenderung rendah, rata-rata di bawah USD 40 per barrel dan ICP (Indonesia Crude Price) ditetapkan sebesar US$ 40 per barrel. (C)
Reporter: Muhammad Israjab
