“Pada 29 Juni 2020, ayah kami Rahimakallah, sudah sakit dan gak kemana-mana lagi. Pada 12 Juli, malam hari kondisi beliau makin menurun dan membutuhkan perawatan medis, tapi beliau gak mau di masukkan ke RS, tapi kami keluarga memaksa akhirnya beliau mau. Jadi kami berinisiatif untuk rapid mandiri sebelum beliau masuk ke RS,” ucap AS.

“Pada malam itu hasil Rapid Test dari salah satu Lab RS swasta menyatakan beliau (ayah) reaktif,” sambungya.

Pada 13 Juli 2020 pagi, sekira pukul 06.30 Wita, karena kondisi ayah AS makin menurun, pihak keluarga tetap ke Rumah Sakit Bahteramas untuk mendapatkan perawatan.

“Tentunya sebelum dirawat maka akan dilakukan uji swab, masih di dalam kendaraan karena menunggu petugas yang sedikit lama, Qaddarullah beliau wafat dipangkuan Kakak kami. Baru beberapa saat kemudian petugas datang dan mengambil sample swab beliau,” kata AS sambil mengenang sosok ayahnya.

Saat mengingat kejadian itu, AS merasa sedih karena ketika dilakukan uji swab saat ayahnya sudah meninggal akibat Kanker Paru yang diidapnya sejak 2016.