Itulah penulis istilahkan pemimpin yang berotak pendek. Cara pikirnya di bawa standar akademik. Bahaya yang ditimbulkan pemimpin berotak pendek jauh lebih berefek sosial dan meresahkan publik, daripada pemimpin bersumbu pendek. Karena kalau sekedar mudah emosi belumlah tentu berotak pendek.

Jauh beda dengan pemimpin bersumbu panjang, sebelum bertindak dan bercakap dia selalu punya pemikiran cerdas, kesabaran dan bijak melihat persoalan. Sehingga dia tidak mudah emosi hanya karena persoalan sepele atau miss komunikasi dan miss persepsi.

Karena sebelum bertindak terlebih dahulu dia pikirkan dengan tenang dengan kepala dingin sehingga kehadirannya selalu dirindukan bawahannya dan memberi tauladan dan kedamaian bagi seluruh rakyat.

Jadilah pemimpin yang bijak, yang senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat, orang banyak daripada kepentingan diri sendiri dan kelompok. Seperti bunyi kata-kata dalam sumpah pelantikan. Akhirnya,  mari belajar banyak tentang sejarah  kepemimpinan yang dihadirkan oleh khalifah Umar bin Khatab, dan Umar bin Abdul Azis, yang sejuk, adil untuk seluruh rakyatnya. (*)