Buku adalah jendela dunia. Pada masa-masa berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, salah seorang bapak bangsa, Bung Hatta ketika harus menjalani pengasingan atau pemenjaraan, misalnya di Pulau Banda nan jauh di sana, sengaja membawa buku berpeti-peti.

Padahal, saat itu selain angkutan kapal masih langka, juga jarak dari Jakarta --yang sejak dulu sudah merupakan episentrum politik--, amat jauh.

Buku-buku tersebut, ia kumpulkan semasa ia masih pelajar dan mahasiswa di Belanda.

Berkat banyak membaca, mengeksplor pemikiran, bahkan laki-laki Minang itu sejak usia belia sudah menulis buku. Misalnya, tentang filsafat Yunani. Buku karyanya ini pula yang kemudian ia jadikan mahar ketika menikahi Rahmi Hatta yang dilamarkan oleh Sang Pemimpin Bangsa, Bung Karno.

Baca Juga: Menilik Eksistensi Peringatan 1 Abad Tamansiswa