"Padahal Wakatobi memiliki ribuan pemuda yang potensinya sangat besar, baik di bidang pariwisata, budaya, ekonomi, maupun sosial. Kami bingung, ke mana kami harus menyalurkan aspirasi dan gagasan kalau wadah utamanya sudah tidak berfungsi,” lanjut Risal.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena hingga saat ini belum ada penunjukan caretaker atau tim penjabat dari DPD KNPI Sulawesi Tenggara untuk menjaga keberlangsungan organisasi.

Berbagai upaya komunikasi yang dilakukan ke tingkat provinsi juga disebut belum membuahkan hasil yang jelas.

Akibat vakumnya KNPI, sejumlah kegiatan kepemudaan yang seharusnya mendapat dukungan dan pendampingan organisasi terpaksa berjalan secara mandiri.

"Bahkan sebagian tidak dapat terlaksana," kata Risal.