Sebelum ditetapkan sebagai delegasi Sultra, Eki melewati sejumlah tahapan seleksi, mulai dari administrasi, penilaian portofolio, penulisan esai, wawancara, hingga tes berbasis komputer atau Computer Assisted Test (CAT). Proses tersebut menjadi bagian dari seleksi peserta yang akan membawa gagasan dan identitas daerah dalam forum kepemudaan nasional.
Bagi Eki, keterlibatan dalam kegiatan ini juga memiliki kaitan dengan perjalanannya sebagai Duta Bahasa. Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk memahami bahwa bahasa bukan semata-mata alat komunikasi, melainkan juga sarana membangun kedekatan dengan masyarakat, menyebarluaskan pengetahuan, dan menggerakkan partisipasi publik.
“Pengalaman sebagai Duta Bahasa membuat saya melihat bahwa bahasa bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Apalagi di daerah seperti Wakatobi, bahasa dan cerita lokal bisa menjadi pendekatan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat,” ujarnya.
Semangat tersebut juga tercermin dalam keterlibatan Eki di komunitas Cerita Anak Pesisir Wakatobi, sebuah proyek percontohan yang menjadi bagian dari upayanya merespons persoalan daerah melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Inisiatif ini menjadi ruang untuk mengembangkan bahasa dan cerita sebagai sarana menyampaikan pesan, menumbuhkan kesadaran, serta membuka peluang keterlibatan generasi muda.
Peran tersebut juga berkaitan dengan semangat Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Bahasa Indonesia dapat menjadi jembatan penyebaran informasi, sementara bahasa daerah dapat dimanfaatkan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dan menjaga kekayaan budaya lokal.
