Pengamat politik Sulawesi Tenggara, Eka Suaib memandang, fenomena Selebgram jadi caleg ini baru berkembang setelah berkembangnya generasi milenial yang melek dengan media sosial yang berpartisipasi mengandalkan internet, sehingga ada ruang-ruang publik yang dapat digunakan berinteraksi langsung.
“Sekarang problemnya adalah bagaimana mengemas konten-konten yang dapat menarik simpati pemilih. Karakteristik pemilih milenial adalah santai yang menghibur dan tidak terlalu serius. Konten itu dapat untuk menarik minat mereka untuk memilihnya,” ujar Eka Suaib, Rabu (30/8/2023).
Baca Juga: Target Menang Pemilu 2024, Ini yang Dilakukan PPP di Jawa Timur
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UHO itu juga menjelaskan, Itulah dunia partisipasi politik sekarang, arena kontestasi dunia virtual mulai dilirik dan menjadi arena baru dalam hal kontestasi dunia politik. Partai politik sudah menyadari fenomena ini, karena partai politik menjadikan media sosial sebagai pendidikan politik dalam menyebarkan informasi partai dan di dalamnya juga terdapat politisi-politisi .
“Saya kira fenomena ini semakin meningkat, pada pemilu yang lalu kita lihat ada salah satu figur yang sudah dengan kreatif mengemas konten di media sosial tetapi tidak memenangkan pertarungan. Jadi ini memang harus berkelindan dunia virtual dengan dunia nyata dan itu kemampuan caleg untuk mengkapitalisasi itu,” tutupnya. (B)
