Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), La Fasa, mengatakan penggunaan akar tuba masih ditemukan secara musiman, terutama ketika air laut surut malam hari. Praktik tersebut dilakukan sebagian masyarakat sebagai cara tradisional untuk menangkap ikan di perairan dangkal.
“Walaupun mungkin dampaknya kecil, tetapi ikan kecil yang tekena juga pasti mati,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun akar tuba merupakan bahan alami dan dinilai berbeda dari racun ikan berbahan kimia tertentu, penggunaannya tetap berpotensi menimbulkan dampak terhadap biota perairan. Karena itu, petugas tetap melakukan pengawasan melalui patroli dan mengambil akar tuba yang ditemukan saat kegiatan pengawasan.
Menurut La Fasa, anggapan bahwa penggunaan akar tuba merupakan bagian dari kearifan lokal tidak serta-merta menghilangkan risiko terhadap kelestarian sumber daya ikan. Penggunaan racun untuk menangkap ikan tetap menjadi perhatian petugas, terutama karena ikan-ikan kecil juga dapat terdampak.
Praktik tersebut menjadi perhatian dalam upaya menjaga kelestarian ekosistem perairan Wakatobi. Masyarakat diharapkan menggunakan metode penangkapan ikan yang tidak membahayakan biota lain maupun mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan. (B)
