KENDARI, TELISIK.ID – Di tengah gempuran modernisasi, pengrajin tenun tradisional di Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berupaya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang sarat nilai.
Salah satun pengrajin tenun tersebut adalah Sarfiah. Ia warga Desa Mabulo, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, yang telah menekuni seni tenun khas daerahnya selama 15 tahun.
Bagi Sarfiah, seni tenun lebih dari sekadar pekerjaan—ia adalah cerminan identitas budaya. “Melalui setiap helai benang, saya mencoba menyampaikan cerita dan tradisi leluhur kami,” ujarnya kepada telisik.id, Selasa (19/11/2024).
Baca Juga: Ditpolairud Polda Sultra Libatkan Tim Scuba Diving UHO dan UMK Transplantasi Terumbu Karang
Proses pembuatan tenun memerlukan ketelitian tinggi, dengan waktu pengerjaan antara lima hingga tujuh hari, tergantung pada kompleksitas motif dan ukuran kain.
