“Hanya Pak RT dan tetangga yang sering membantu saat saya sakit dan tidak bisa bekerja," katanya dengan mata berkaca-kaca menahan air mata.
Saat dijumpai Telisik.id, sang nenek menyambut dengan ramah sambil menawarkan dagangannya. Mata yang sudah rabun, kulitnya yang mengeriput, mengajak Telisik.id berjabat tangan.
Meski hasil penjualan sapu lidi tak menentu, kadang hanya dapat Rp 10 ribu dalam sehari, bahkan sering tak ada yang laku sama sekali.
Namun di balik ketegarannya, tersimpan rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Ia hidup tanpa keluarga, suami dan anaknya. Orang-orang yang dikasihinya itu telah kembali ke pencipta-Nya.
Untunglah masih ada cucu kesayangannya yang setia menemani kemanapun dia pergi berjualan.
