Ia menuturkan, dalam pelaksanaan pekerjaan, pihaknya tidak mungkin bertindak di luar panduan yang telah ditetapkan. Bahkan, kata dia, detail kecil seperti tata kursi dan warna panggung saja harus melalui proses persetujuan resmi.
“Kami tidak mungkin melakukan hal-hal di luar panduan dan persetujuan. Begitu juga dalam desain grafis, semua mengacu pada arahan resmi,” tambahnya.
Terkait penggunaan hewan dan tumbuhan sebagai inspirasi visual, Galih menyebut hal tersebut bukanlah hal baru. Ia mengatakan, unsur flora dan fauna telah lazim digunakan setiap pelaksanaan MTQ dan STQH di berbagai daerah di Indonesia.
“Umumnya maskot diambil dari tumbuhan atau hewan endemik daerah. Kalau kita lihat di Jawa Timur, Kalimantan, atau Lampung, masing-masing punya ciri khas lokalnya,” ungkapnya.
Soal desain maskot STQH yang menuai sorotan karena dinilai menyerupai hewan yang memeluk kitab suci, Galih menegaskan bahwa pihaknya tidak berwenang menilai makna religius dari elemen tersebut.
