“Kami hanya berkapasitas dalam hal desain sesuai kaidah grafis. Soal makna kitab suci, itu di luar kewenangan kami,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa versi awal maskot sebenarnya tidak memegang apa pun. Namun setelah melalui proses evaluasi dan permintaan agar desain terlihat lebih “islami”, elemen tambahan pun dimasukkan.
“Awalnya maskot tidak memegang apa pun. Lalu direvisi agar lebih berkesan islami. Setelah ditambah elemen tersebut, jadilah seperti yang sekarang beredar,” terangnya.
Galih mengaku heran dengan munculnya polemik di tengah masyarakat, sebab seluruh rancangan telah disetujui oleh berbagai pihak melalui rapat daring nasional.
“Semua desain, termasuk maskot, sudah kami presentasikan dan disetujui dalam rapat nasional via Zoom. Tidak ada satu pun pihak yang menolak atau mengoreksi desain itu,” tegasnya.
