"Saya kemudian berlari keluar dari ruang ICU untuk melindungi diri, karena situasi di dalam ruangan sudah tidak kondusif," ungkap Elking, Kamis, (25/5/2023).
Elking menceritakan, pasien tersebut awalnya datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi yang sangat kritis. Oleh karena itu, pasien segera dirujuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Beberapa jam kemudian, kondisi pasien mengalami penurunan kesadaran yang signifikan. Gelombang jantung pada monitor menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kehidupan.
"Kami meminta izin kepada keluarga pasien untuk melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP), namun sayangnya permintaan kami ditolak. Kami kemudian memberikan panduan kepada keluarganya untuk mengantarkan pasien dengan damai," tambah Elking.
Sayangnya, pasien tersebut kemudian meninggal dunia. Beberapa saat setelah itu, Elking meminta izin kepada keluarga untuk melepas alat medis yang masih melekat pada tubuh pasien. Di sinilah kejadian yang menggemparkan itu terjadi. Elking tiba-tiba ditarik dan dipukul oleh keluarga pasien.
Kapolresta Kendari, Kombes Pol Muh. Eka Fathurrahman, juga mengkonfirmasi kejadian itu melalui pesan Whatsapp. Ia menyebut, Direktur RSUD Kendari, Sukirman, masih mengadakan rapat internal terkait kasus itu. Setelah rapat selesai, pihak rumah sakit akan segera melaporkan kejadian itu ke polisi.
